Kamis, 28 Mei 2015

Coklat Panas Pait

Sore hari aku di warung kopi bersama dua orang teman. Aku sedang menghabiskan segelas kopi aceh arabika dan sebatang rokok produksi pabrik lokal yang di tengah-tengah jari tengah dan jari telunjuk. Ku hisap rokok yang dilanjut menyeruput kopi, kemudian ku semburkan asapnya dengan pelan dan halus. Aku selalu melakukan hal demikian secara berulang-ulang sampai rokok benar-benar tidak bisa dinikmati hisapannya. Sampai rokok ku matikan diatas asbak kaca berbentuk kotak.

Aku memalingkan pandangan ke arah pintu warung kopi ketika aku dan dua temanku selesai ngobrol dan saat mereka membalas chat di handphone-nya. Dari tempat dimana aku duduk sekitar 6 meter sampai pintu, ku lihat kamu menggunakan kaos hitam dengan jaket denim berwarna abu-abu pudar, celana jeans biru, dan sepatu skate berwarna putih. Ku lihat kamu seorang yang santai. Kacamata lensa bening dengan frame berwarna hitam menghiasi rambut depanmu yang terbelah sampai ke bagian atasmu. Dan rambut bagian belakang yang hanya sampai pundak mengurai. Kamu berjalan santai melewati pintu dengan dua orang di sebelah kananmu. Aku anggap kedua orang itu adalah temanmu. Kamu berjalan tepat di sebelah kiriku. Aku terus memandang ke arahmu, dengan sekejap matamu mendapati mataku. Aku sangat tidak ahli dalam menggambarkan wajah seseorang termasuk wajah yang ku maksud ini. Badanku membelakangimu saat kamu berjalan menuju kasir untuk memesan sesuatu.

30 detik kemudian aku melirik ke belakang, ke arahmu. Kamu masih melihat-lihat ke daftar menu.

Sekitar satu menit, kamu lepas dari kasir. Kamu bersama dua orang berkerudung memandangi tempat duduk kosong. Ku lihat temanmu yang berkerudung hitam menunjuk meja kosong di ujung ruangan. Satunya lagi temanmu yang berkerudung navy pergi ke dalam. Ku tebak dia ke kamar kecil. Kamu dan cewek berkerudung hitam pun memilih 1 meja dan 4 kursi. Kamu memilih posisi duduk yang membelakangiku. Begitu pun temanmu.

Kesal...

Ku sruput kopi. Ku lihat kedua temanku masih sibuk dengan handphone-nya. Satu masih membalas chat dengan wajah bahagianya dan yang satu buka-buka foto di Instagram.

Ku ambil handphone-ku. Nggak ada pesan atau pemberitahuan apapun. Biasa. Ku buka Instagram. Ku lihat beberapa foto yang ada di tab home dan tab aktivitas - following. Selesai, keluar Instagram. Ku buka TweetCaster Pro, aplikasi twitter di handphone. Ku lihat ada 100 tweet di timeline yang belum dibaca. Aku baca satu per satu dari tweet yang paling lama (20 menit yang lalu) sampai tweet yang paling baru (49 detik yang lalu). Nggak ada yang menarik untuk di-retweet atau di-reply. Keluar dari aplikasi TweetCaster Pro dan ku letakkan handphone di sebelah bungkus rokok sampoerna mild. Ku lihat teman-teman masih sibuk dengan handphone-nya.

Ku curi pandang ke arahmu. Kamu masih duduk membelakangiku. Temanmu yang berkerudung navy sudah bergabung denganmu. Dia memposisikan duduk berhadapan denganmu.

Ku lirik temanmu yang berkerudung navy. Sekilas. Bahkan aku nggak dapat balas lirikan oleh temanmu. Lesu.

Salah satu temanku membuka obrolan. Cerita tentang salah satu akun di Instagram yang dia follow. Akun cewek. Cantik. Paling tidak terlihat cantik di foto-foto Instagram-nya. Karena diantara teman-temanku belum ada yang melihatnya langsung. Aku dan teman-teman mulai mengeluarkan suara. Ngobrol lagi.

Lagi-lagi aku melirik ke kiri, ke arah kamu yang masih membelakangiku. Terlihat pelayan sedang menurunkan 1 gelas coklat dingin, 1 gelas jus alpukat, 1 botol air mineral, dan 1 mug yang berisi 'sepertinya' coklat panas. Sepertinya kamu memesan coklat panas dan air mineral. Pelayan tersebut kemudian pergi. Aku masih memandang bagian belakangmu yang tadi sudah aku pandang bagian depan. Aku ingin melihat bagian depanmu lagi. Melihat wajahmu lagi. Berharap kita saling memandang. Kenyataannya sulit kecuali aku mendekatimu dan berkenalan langsung.

Aku sudah punya pikiran kalau kamu nggak bakal melirik ke belakang---sampai benar-benar kamu pergi dari warung kopi. Ku sambung obrolan dengan teman-temanku.

Tapi aku tetap penasaran. Ku ingin melihat mukamu lagi.

Lagi, aku melirikmu. Tentunya yang masih terlihat bagian belakangmu. Kamu nggak pernah menengok ke belakang. Ku lirik teman yang ada di depanmu.

Satu kali...

Dua kali...

Tiga kali...

Empat kali...

Lima kali...

Aku melirik kamu dan temanmu. Berharap temanmu ada yang menyadarkanmu kalau kamu sedang diperhatikanku. Kadang aku menghiraukan obrolan teman-temanku. Aku lebih sibuk melirikmu.

Enam kali...

Tujuh kali...

Time is up...

Sepertinya teman yang berkerudung navy memberi tahumu. Aku langsung berpaling dan memandang teman-temanku. Aku berusaha menyambung obrolan dengan teman-temanku dengan berharap kamu melirik ke arahku. Aku mendapati 'angle' ke depan dengan jangkauan komposisi aku bisa melihatmu. Tetapi kamu masih nggak melirik ke arahku.

Semenit...

Dua menit...

Ada sekitar 6 orang keluar dari dalam warung kopi menuju pintu keluar. Rombongan itu mencuri perhatian orang-orang yang ada di warung kopi. Salah satu dari rombongan tersebut ada yang menjatuhkan handphone-nya. Aku sekilas melirik orang yang menjatuhkan handphone.

Tapi kemudian aku mencuri pandang. Memandangmu. Kamu terlihat menengok ke belakang. Melihat orang yang menjatuhkan handphone. Dan kamu memandangku. Kita saling memandang. Sepintas. Dan kamu langsung menghadap ke depan.

Sekarang kamu tahu, aku adalah orang yang sering memandangmu---melirikmu. Aku senang tapi tidak cukup bahagia. Kamu melirikku dibalik kaca matamu. Aku yakin kamu memandangku.

Sial. Aku nggak punya keberanian untuk mendekatmu. Dengan situasi seperti ini aku merasa nggak bisa mendekatmu. Sekalipun kamu adalah artis FTV idolaku, aku nggak mungkin mendekatimu untuk meminta tanda tangan dan foto bareng. Ini situasi yang rawan salting bagiku.

Ku kumpulkan rasa berani untuk berkenalan denganmu. Ku pikirkan segala cara untuk berkenalan. Paling tidak aku tau akun instagram dan twitter-mu. Atau sesuatu yang dapat membuat ku mengikuti kehidupanmu. Sesuatu yang update tentangmu. Path, mungkin? Tak masalah.

Aku masih sibuk melirik ke arahmu. Secara tiba-tiba ku ambil handphone di atas meja. Aku beranjak dari tempat ku duduk. Berjalan ke arahmu. Temanmu memandang ku mendekatimu. Aku berdiri di belakangmu. Aku melihat kamu meminum coklat menggunakan sendok. Aku masih berdiri di belakangmu.

Temanmu memberi kode menggunakan matanya. Aku paham kodenya. "Lirik ke belakang" begitu kira-kira arti dari kode yang diberikan temanmu. Kamu melirik aku yang sedang berdiri di belakangmu. Sekilas. Lalu kamu meminum kembali coklat menggunakan sendok.

Sedetik...

Dua detik...

Tiga detik...

Empat detik...

Aku masih berdiri di belakangmu tanpa mengeluarkan suara.

Lima detik...

Enam detik...

Kamu melirikku dan mengeluarkan suara "aku nggak bisa telepati, mas"

Kamis, 21 Mei 2015

Tim Sepak Bola Favorit

Seperti kebanyakan anak laki-laki lainnya, saat saya masih kecil berumur 4 tahun sudah bermain-main dengan mainan bola. Saat dimana belum pada tahap menyukai permainan olahraga yang menggunakan bola, tetapi orang tua sudah mengenalkan mainan berbentuk bundar tersebut. Entah untuk dilempar-lempar atau ditendang-tendang.

Sepak bola salah satu cabang olahraga yang memanfaatkan benda berbentuk bundar. Masuk ke tahap Sekolah Dasar, kepopuleran olahraga sepak bola menjadikan guru olahraga lebih dulu mengenalkan permainan sepak bola dibandingkan permainan basket, voli, atau sepak takraw.

Sejak kecil, tahun 2002-an, kecanduan menonton pertandingan sepak bola dimulai. Berawal dari rumah yang selalu rame di setiap ada pertandingan sepak bola di TV. Setiap ada pertandingan, teman-teman bapak selalu berkunjung ke rumah untuk menonton Liga Italia. Memang pada masa itu, TV adalah barang langka di lingkungan rumah. Pada masa itu pula Liga Italia – Serie A adalah liga paling populer dibandingkan Liga Inggris, Liga Jerman, apalagi Liga Spanyol.

Kepopuleran Liga Italia membuat tim Juventus menjadi tim yang paling ditunggu-tunggu pertandingannya. Bisa dibilang Juventus adalah tim sepak bola favorit pertama saya. Berawal dari mengenal pemain macam Alessandro Del Piero, Birindelli, Lilian Thuram, Igor Tudor, David Trezeguet, bahkan pelatihnya waktu itu : Marcello Lippi.

Skuad Juventus
Sampailah waktunya bulan puasa di bulan Oktober/November. Setiap jam 3 pagi selalu dibangunkan untuk sahur. Setiap sahur selalu nyambi nonton match UEFA Champion League. Dari sana mulai mengenal tim Real Madrid, Bayern Munchen, Arsenal, dan Manchester United. Mulai mengenal pemain-pemain seperti kiper legenda Jerman : Oliver Kahn, pemain Real Madrid : Raul Gonzales, dan pemain idola pertama karena tendangannya dan kegantengannya : David Beckham.
David Beckham

Mengenalnya tim-tim dari Liga Eropa lain membuat pilihan tim saat main Playstasion 1 lebih bervariasi. Tidak selalu menggunakan tim jagoan yang waktu itu Juventus. Seperti memilih Manchester United karena ada David Beckham, tetapi lebih sering menggunakan tim Real Madrid, yang waktu itu tendangan bebas dari Roberto Carlos menjadi favorit. Walaupun main PS menggunakan tim yang ganti-ganti, waktu itu mengakui sebagai fans Juventus. Alasannya karena jumlah scudetto-nya lebih banyak dari tim Italia lainnya.

Sekitar tahun 2006-2007, Liga Italia – Serie A sudah mulai malas ditonton. Secara pribadi, alasannya karena Juventus terkena skandal calciopoli dan dampaknya degradasi ke Serie B. Walau sebelumnya menjadi juara Serie A. Paling menyedihkan pada waktu itu adalah Juventus ditinggal sang pelatih : Fabio Capello, dan striker : Ibrahimovic. Nama-nama legenda seperti Alessandro Del Piero, Pavel Nedved, Camoranesi, Gianlugi Buffon, sampai David Trezeguet masih bertahan. Karena Juventus di Serie B, maka, TV lokal tidak ada yang menyiarkan pertandingan Serie B. Akhirnya, lebih sering menonton pertandingan Liga Inggris.

Manchester United yang menjadi favorit di Liga Inggris sudah ditinggal David Beckham ke Real Madrid, tapi punya pemain pengganti bernomor punggung 7, Cristiano Ronaldo. Setiap bermain PS mulai sering menggunakan Manchester United. Dari sana awal mula menyukai Manchester United secara tim. Terkadang begadang untuk nonton Manchester United bermain di UCL. Pada waktu itu, saya mengira rival abadi Manchester United adalah Chelsea. Karena setiap pertandingan Manchester United dan Chelsea sering terjadi keributan antar pemain. Ternyata rival abadi Manchester United adalah Liverpool.

On This Day, 21 Mei 2008, final UCL anatara Manchester United vs Chelsea. Masih ingat, itu adalah final UCL pertama yang saya tonton saat SMP. Seperti biasa, pertandingan Manchester United vs Chelsea sempat ada ributnya. Antara Drogba dan Teves ribut yang menyebabkan Drogba dikartu merah pada saat extra time. Pertandingan dilanjutkan adu pinalti. Saat Ronaldo gagal eksekusi, saya sempat pesimis, bahwa Chelsea yang akan menjadi juara. Tetapi tendangan John Terry juga meleset. Hingga akhirnya, tendangan dari Anelka menjadikan Manchester United menjadi juara UCL. Bahagia, senang, luar biasa, bisa menonton tim yang difavoritkan menjadi juara.

Final UCL 2008

Masuk SMA, dunia sepak bola seperti tidak terlalu menarik. Bahkan saat kelas X, teman-teman satu kelas saya lebih banyak yang menyukai olahraga voli. Mereka menganggap menyukai sepak bola adalah sesuatu yang mainstream. Sampai ekstrakurikuler sepak bola tidak ada yang mengikuti. Pelajaran olahraga pun didominasi bermain voli walau ada beberapa teman yang bermain sepak bola. Esktrakurikuler cabang olahraga voli dan basket yang paling banyak peminat. Saya masuk tim basket. Pada waktu itu, hobi menonton sepak bola mulai sedikit turun.

Kelas XI mulai bertemu teman-teman yang punya hobi menonton sepak bola. Mulai banyak membicarakan pertandingan dan pemain-pemain. Pada waktu itu, saya menyukai Juventus dan Manchester United. Diantara teman-teman, tidak ada yang terlalu fanatik dengan satu tim. Teman-teman dan termasuk saya pada waktu itu masih pada level menyukai suatu tim untuk dimainkannya ke dalam game virtual.

Masuk kuliah, di tahun 2011, bertemu teman-teman kos yang sangat fanatik dengan satu tim. Teman-teman menganggap, mereka yang menyukai lebih dari satu tim adalah bukan fan sejati atau disebut glory hunter. Akhirnya, seiring berjalannya waktu, membaca tentang kejayaan, keterpurkan, pemain dan pelatih legenda dari Manchester United membuat saya menyukai Manchester United. Perasaan untuk mendukung Juventus mulai menghilang.

Manchester United 2014/2015
Walau seorang fans layar kaca, tetapi menyukai Manchester United seperti saya memeluk agama. Saya beragama Islam, dan saya belum pernah ke tanah suci, Mekkah, Arab Saudi. Saya di Indonesia mempelajari ajaran-ajaran yang ada di agama Islam. Mempercayai dan berlindung kepada agama. Begitu pula dengan mengatakan bahwa saya adalah pendukung Manchester United. Saya belum pernah ke Old Trafrod, Manchester, Inggris. Tetapi saya mulai mengetahui sejarah klub, para legenda, masa kelam, masa kejayaan dari klub. Sebagai seorang yang menyukai olahraga sepak bola, saya berdiri dibawah klub Manchester United. Saya mempercayai kejayaan Manchester United yang pernah ada di tahun 1999 akan diulang oleh Manchester United di tahun-tahun mendatang.

Mulai musim 2013/2014, kebanyakan fans layar kaca merasa kecewa. MNC group tidak lagi membeli hak siar BPL karena tarif hak siar BPL naik sangat tinggi. Seperti ini tidak banyak pertandingan Liga Inggris di malam minggu atau malam senin. Walau begitu, fans layar kaca bisa menonton lewat TV berbayar atau via streaming. Akan tetapi langsung muncul kabar, bahwa FA akan blokir web yang menyediakan streaming gratis dengan alasan menghormati stasiun TV yang membeli hak siar BPL. Tapi nyatanya sampai sekarang masih banyak web yang menyediakan streaming gratis. Fans layar kaca yang tidak berlangganan TV kabel pun belum khawatir. Termasuk saya. Setiap Manchester United tidak ditayangkan di TV lokal, maka jalan satu-satunya adalah datang acara nobar atau streamingan. Walaupun harus keluar biaya untuk membeli paket internet yang kekauatan sinyalnya kuat dan kuota minimal 600 MB setiap pertandingan.

Old Trafford

Sekarang, membicarakan passion, jelas tidak selamanya ingin menjadi fans layar kaca. Semoga suatu hari nanti, bisa menonton langsung pertandingan Manchester United di Old Trafford, Manchester, Inggris. Amin.

Minggu, 17 Mei 2015

[Review] Mad Max Fury Road


Pertama kali tahu film ini ketika akun twitter @WBPicturesID bagi link video trailer bulan lalu. Pertama kali nonton trailer-nya cuma ngerti ini film mobil-mobil rongsokan yang ditabrak-tabrak, dan dibakar. “Nggak tertarik” pertama kali punya pikiran setelah menonton trailer. Kemudian ada lagi akun di Twitter yang upload gambar-gambar mobil yang dipake di film ini. Baru sadar, gambar mobilnya bagus-bagus dan nggak sekedar mobil rongsokan. Beberapa gambar mobilnya seperti ini :







Rasa penasaran muncul yang kemudian baca sinopsisnya di beberapa website. Diceritakan film ini tentang pertarungan di Padang pasir, manusia berjuang untuk hidup, seorang laki-laki yang kehilangan anak dan istrinya, dan seorang perempuan yang ingin pulang ke kota masa kecilnya. Semakin penasaran. Saat baca di bebarapa previewer tentang Mad Max, saya baru tahu kalau Mad Max ini film yang pernah ada di tahun 1970-1980an.

Tepat tanggal 13 Mei 2015, Mad Max Fury Road tayang di bioskop Indonesia. Seketika twitter rame dari retweet-an @WBPicturesID yang ngasih testimoni untuk film. Pikir saya, Ini wajar karena Warner Bros adalah rumah produksi dari Mad Max.

Dua hari setelah tayang perdana, saya memutuskan untuk menonton. Pas beli tiket, nggak seperti beli tiket Furious 7 atau The Avenger 2 yang harus ngantri panjang. Pas milih tempat duduk sedikit ragu karena tempat duduk masih dominasi warna ijo. Demi mengobati rasa penasaran, saya putuskan tetap menonton Mad Max.

Cinema XXI di Paragon, Semarang.

Sekarang, saya mencoba kasih sedikit preview atau mungkin memberikan testimoni dari sudut pandang pribadi yang nggak punya pengetahuan tentang trilogi film Mad Max di tahun 1970-an.

Bingung harus mengeluarkan kata-kata awalan seperti apa.

Rongsokan, brutal, unik, panas.

Film yang hanya berlatar belakang padang pasir dan hampir tidak terlihat pohon hijau atau tanaman segar. Sangat kering. Tokoh dan mobil dalam cerita yang unik-unik. Entah lah, harus menggambarkan Immortan Joe dan para pengikutnya itu manusia atau zombie? Dan entah lah bagaimana memodifikasi mobil yang unik-unik.

Film ini dibuka dari perkenalan Max yang diculik sekelompok zombie saat di padang pasir. Suara anak perempuan kecil sering muncul memanggil-manggil nama Max. Sepanjang film, tidak diperkenalkan siapa anak kecil yang tergambar berwajah pucat dan muka berdarah tersebut.

Sekelompok zombie yang menculik Max adalah anak buah Immortan Joe. Immortan Joe adalah seorang penguasa dengan dandanan yang cukup unik karena maskernya. Layaknya tokoh Bane dalam film Batman The Dark Night Rises (2012), Immortan Joe menggunakan masker dengan oksigen yang menempel di leher bagian belakang. Immortan Joe mencuci otak para zombie yang dinamakan War Boy untuk memuja dirinya dan tujuan akhir adalah gerbang Valhalla. Selain itu, Immortan Joe berkuasa dengan mengendalikan sumber daya air untuk manusia. Dalam film, saat dia membuka sumber daya air yang mirip air terjun, dia mengatakan kepada manusia, bahwa manusia tidak boleh bergantung pada air. Karena itu akan membuatnya semakin terpana. Kira-kira begitu kalo nggak salah.

Tidak lama dari awal penayangan film, sebuah masalah dari film datang ketika Furiosa menyimpang tujuan dari misinya, yaitu mengambil sumber bahan bakar menggunakan War Rig, mobil yang mirip mobil tangki pertamina tetapi lebih besar dan panjang. Mengetahui hal tersebut, Immortan Joe langsung menuju ruangan para induk, ternyata para induk telah hilang. Immortan Joe langsung menggerakkan seluruh anak buahnya untuk perang demi membawa pulang para induk yang dibawa oleh Furiosa.

Inilah awal dari kejar-kejaran dalam film. Bagaimana Furiosa ingin membawa para induk kabur dari tempar Immortan Joe menuju ke suatu tempat yang bernama Green Place. Para induk ini hanya dijadikan seseorang yang dapat mengandung bayi untuk keturunan dari seorang Immortan Joe. Sedangkan Green Place digambarkan suatu tempat yang istilahnya hijau diantara luasnya padang pasir.

Kejar-kejaran antara Immortan Joe didampingi seluruh anak buahnya dengan Furiosa bersama para induk terus berjalan sepanjang film. Max, yang diculik untuk dijadikan “kantong darah” War Boy dipasung di depan mobil salah satu War Boy yang ikut berperang. Singkat cerita, akhirnya Max terbebas telah menjadi kantong darah saat mobil War Boy yang membawanya masuk ke dalam badai pasir. Setelah melewati scene yang masuk ke dalam badai pasir, Max dan Furiosa bertemu. Furiosa bersedia membantu Max untuk pergi dari tempat Immortan Joe walau sebelumnya harus berkelahi diantara mereka berdua untuk menentukan saling membunuh atau saling membantu.

Adegan kejar-kejaran yang sangat brutal menjadi sesuatu yang benar-benar harus diakui apik dan absurd. Scene dimana dalam peperangan membawa gitaris yang memainkan gitar elektrik lengkap dengan amplifier gede adalah sesuatu yang paling absurd bagi saya.



Dari segi alur cerita, Mad Max banyak menampilkan sesuatu yang membingungkan. Tetapi sekali lagi, hal tersebut tidak akan membingungkan apabila menonton triloginya di tahun 1970-an. Latar belakang padang pasir membuat komposisi dalam layar sangat luas. Saya menyadari harus melihat banyak adegan dalam satu layar saat Furiosa dan Max ingin kembali ke tempat Immortan Joe. Minimnya CGI dengan beberapa adegan-adegan yang berbahaya membuat film terlihat benar-benar nyata.

Sulit untuk menebak nilai yang disampaikan dalam film ini layaknya seperti film lain yang mengandung makna atau pesan moral. Kecuali dalam diri seorang Furiosa. Wanita cacat yang mampu mengendarai War Rig dan mampu bertarung dan melawan kekuasaan kotor dari sang penguasa. Atau mungkin film ini disajikan untuk menghibur penontonnya dengan aksi kejar-kejaran menggunakan mobil-mobil unik yang sangat brutal. Ini membuat saya berfikir, Mad Max Fury Road adalah Fast and Furious versi Warner Bros.

Kamis, 14 Mei 2015

2 Fast 2 Furious, Film Favorit Pertama

Brian : You cannot go without say good bye
Saya percaya, pecinta film yang mengikuti serial film Fast and Furious kenal dengan Brian O’conner yang diperankan oleh Paul Walker. Aktor tersebut telah meninggal dunia pada 1 Desember 2013 karena kecelakaan mobil. Pasti sudah tahu juga, saat dia meninggal, proyek serial film Fast and Furious sedang berjalan dengan serialnya yang ke-7. Disini saya akan menceritakan kembali tentang Fast and Furious dan beberapa yang membuat saya masih menyukainya.

Akhirnya film yang berjudul Furious 7 pun tayang di bioskop Indonesia pada tanggal 1 April 2015. Seperti yang diberitakan sebelum film ini tayang, bahwa peran Brian masih tetap hidup. Ya! sosok Brian tetap hidup di sepanjang film. Bahkan kecanggihan CGI berhasil membuat saya bingung. Scene mana yang menggunakan Paul Walker asli dan yang bukan Paul Walker. Kecuali di scene akhiran antara Brian dan Dom saat mereka berdua berada dalam mobil masing-masing. Senyuman dan mimik wajah Brian dalam mobil Toyota Supra lebih mirip Cody Walker.

Scene perpisahan yang begitu manis sukses membuat saya sangat menyukai film Furious 7. Saya ingat, scene itu mirip dengan scene terakhir di film Fast and Furious (2001). Bedanya, scene terakhir di film tersebut adalah akhir dari pertarungan antara Brian dan Dom yang kemudian menjadi awal dari persahabatan mereka di film Fast and Furious 4 (2009). Sedangkan di scene terakhir Furious 7 digambarkan bahwa Brian menyusul Dom yang pergi tanpa pamitan. “You cannot go without say goodbye” adalah dialog Brian kepada Dom saat mobilnya berhenti di sebelah kiri Dom. Kemudian mereka berdua jalan menggunakan mobil berjejeran tanpa kebut-kebutan. Akhir film, mereka berdua memilih jalan yang berbeda di persimpangan. Backsound lagu See You Again – Wiz Khalifa ft. Charlie Puth sempat membuat air mata tiba-tiba menetes. Scene ini membuat saya bertanya-tanya. Apakah ini awal dari kehilangan Brian untuk film Fast and Furious selanjutnya? Atau sekedar scene perpisahan untuk menghormati Paul Walker?

...one last ride..

Mengulas sedikit tentang hal tersebut. Dominic Toretto mengucapkan kalimat “one last ride” sebelum memulai pertarungan dengan Deckard Shaw yang diperankan oleh Jason Statham. Mungkin maksud dari kalimat tersebut adalah pertarungan yang terakhir. Karena sebelumnya Dom sudah menikmati hari-harinya bersama Letty, Brian yang sudah memilih mengemudi mobil keluarga ketimbang mobil balap.

Mundur di film Fast Five, ketika pertama kali kelompok Dom bertemu untuk sebuah misi merampas uang milik gembong narkoba : Hernan Reyes. Sebelum memulai perang, Dom menyampaikan pidato singkat kepada kelompoknya, bahwa keluarga adalah harta yang paling penting. Mulai dari pidato Dom ini, menurut saya film serial Fast and Furious selanjutnya menjadi film keluarga yang ber-genre action.

Selanjutnya di film Fast and Furious 6, ketika seluruh kelompok sudah menikmati kehidupannya masing-masing. Seperti Brian bahagia bersama Mia yang melahirkan anak mereka, Dom yang memulai kehidupan baru bersama pacar barunya : Elena. Awal scene, Brian dan Dom menggunakan mobil sedang kebut-kebutan menuju tempat kelahiran anak Brian. Saat Brian akan masuk mellihat persalinan, Dom mengatakan kepada Brian, bahwa setelah masuk ke pintu persalinan, kehidupannya akan berubah. Masalah dalam film mulai muncul ketika Hobbs mendatangi kediaman Dom dengan tujuan meminta bantuan kepada Dom dan kelompoknya. Hobbs membutuhkan kelompok Dom untuk menangkap Owen Shaw dengan imbalan bebas dari daftar buronan dan mendapatkan Letty kembali. 

Dari beberapa alur cerita film tersebut sudah jelas, bahwa serial film Fast and Furious masih menyajikan cerita. Sekarang, bagaimana dengan Fast and Furious 8 yang kabarnya akan tayang pada tanggal 14 April 2017? Apakah Brian masih muncul dengan sosok Paul Walker? atau malah film tentang kehilangan Paul Walker? Yang jelas banyak kabar tentang film Fast and Furious 8 adalah persembahan dari Paul Walker. Kabarnya Kurt Russell yang menjaga Mia di film Furious 7 menjadi benang merah untuk film Fast and Furious 8. Bagaimana cerita dalam Fast and Furious 8, saya berdoa semoga diberi kesehatan dan umur pajang untuk bisa menontonnya.

Sekedar berbagi cerita, bahwa pertama kali saya menyukai film adalah film 2 Fast 2 Furious karena dulu sering tayang di TV. Kemudian saya telat mengetahui ada film Fast and Furious pertama setelah banyak menonton film 2 Fast 2 Furious. Film Tokyo Drift sempat membuat saya kecewa. Alasannya tidak ada tokoh Brian O’Conner dan Roman Pearce. Kerjasamanya, kekonyolannya, keberaniannya, sering menjadikan bahan fantasi saat saya tumbuh dewasa bersama teman-teman.

Dalam film 2 Fast and 2 Furious juga mengisahkan para pembalap Miami yang melawan polisi. Saat masih SMP, jujur, saya sempat tidak menyukai Polisi. Saya punya pengalaman ditilang dan kena denda karna membawa motor belum punya SIM. Menonton film 2 Fast 2 Furious pada waktu itu benar-benar seperti membenarkan bahwa Polisi harus dilawan. Tentunya itu adalah pemikiran yang salah. Tetapi seklailagi, itu dulu, masa lalu, saat masih SMP kelas 1.

Mulai dari Fast Five, serial film action ini sering menonjolkan nilai kekeluargaan. Bagaimana menceritakan bertarung di jalan, bertarung dengan para penguasa dengan cara jalanan adalah beberapa plot yang menunjukkan ini adalah film ber-genre action. Tetapi bagaimana kakak yang menjaga adiknya, bagaimana sahabat menolong sahabatnya, kerenggangan dalam persahabatan kemudian bersatu dalam persahabatan adalah pesan moral yang paling saya suka.